logo web ptmks

  • 1a

      Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Salam Sejahtera
      Om SuwastiAstu
      Dan Salam Kebajikan Untuk Kita Semua.

     

    Puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa atas limpahan berkat dan rahmatNya sehingga Pengadilan Tinggi Makkassar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan sesuai dengan harapan masyarakat

    Read More
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
img link ma img link badil img link bawas img link diklat

LOGO COVV

ziii

WhatsApp Image 2020 09 17 at 10.05.50

~EVIDENCE ZONA INTEGRITAS~

ZI GAB

Mon20Apr2020

Sejarah Pengadilan

.,

UNDANG-UNDANG  DARURAT REPUBLIK INDONESIA  (UUDRT) NOMOR  1 TAHUN  1951  (1/1951)

TENT ANG

TINDAKAN-TINDAKAN SEMENTARA UNTUK MENYELENGGARAKAN KESATUAN SUSUNAN KEKUASAAN DAN ACARA PENGADILAN-PENGADILAN  SIPIL

 

Presiden  Republik

Indonesia,

 

Menimbang

bahwa

perlu  diadakan

peraturan

tentang

tindakan•

tindakan

sementara

untuk   menyelenggarakan

kesatuan

susunan.

kekuasaan

dan acara

pengadilan-pengadilan   sipil;

   

Menimbang   pula      bahwa   karena   keadaan-keadaan   yang  mendesak, peraturan  ini perlu  segera diadakan;

Mengingat

1.     pasal-pasal   96,  101,   102,  103,   132,  133  dan  142  Undang•

undang Dasar Sementara  Republik Indonesia;

2. Undang-undang  tentang penghapusan  Pengadilan-Raja (Zelfbestuursrechtspraak)    di  Jawa  dan Sumatera  (Lembaran  Negara Republik   Indonesia  tahun  1947 No.  23) yuncto  Peraturan   Pemerintah Pengganti  Undang-undang   No.  1 tahun  1950  tentang  peraturan   daerah pulihan,  setelah  diubah  dengan  Undang-undang   No.  8 tahun  1950;

3.   pasal   9  ayat   3  kontrak   politik   yang  dibuat   dengan pemerintah-pemerintah   Swapraja  dalam  Negara  Sumatera  Timur dahulu, karesidenan   Kalimantan   Barat  dahulu  dan  Negara Indonesia   Timur dahulu (Staatsblad   1939  No.  146,  612 dan  613),   pula  pasal  9 ayat  3 "Peraturan   Swapraja  1938"  (Staatsblad   1938 No.  529)  yang  sekedar mengenai  daerah-daerah  Swapraja  dalam Negara  Sumatera  Timur dahulu karesidenan   Kalimantan   Barat  dahulu dan  Negara   Indonesia   Timur dahulu   yang  hubungannya   dengan   Pemerintah   Republik   Indonesia diperintahkan  oleh yang disebut  "Korte Verklaring";

Memutuskan:

A.Mencabut  peraturan-peraturan    atau pasal-pasal  peraturan-peraturan yang bertentangan  dengan Undang-undang  ini.

B.Menetapkan:

UNDANG-UNDANG DARURAT TENTANG  TINDAKAN-TINDAKAN   SEMENTARA  UNTUK

MENYELENGGARAKAN   KESATUAN SUSUNAN,    KEKUASAAN DAN  ACARA PENGADILAN-PENGADILAN  SIPIL.

Pasal   1.

(1).   Pada saat peraturan  ini mulai  berlaku,  dihapuskan a.Mahkamah  Justisi  di Makasar  dan alat Penuntutan  Umum padanya; b.Appelraad  di Makasar;

c.Appelraad  di Medan;

 

d.segala

e.segala f.segala g.segala h.segala i.segala j.segala

 

Pengadilan  Negara  dan segala Landgerecht (cara  baru), dan alat Penuntutan Umum padanya;

Pengadilan Kepolisian dan alat Penuntutan Umum padanya; Pengadilan  Magistraat (Pengadilan  Rendah);

Pengadilan Kabupaten; Raad Distrik; pengadilan  Distrik;

Pengadilan Negorij.

 

(2).   Pada saat  yang berangsur-angsur   akan ditentukan   oleh Menteri

Kehakiman dihapuskan:

a.segala  Pengadilan Swapraja (Zelfbestuursrechtspraak)   dalam Negara

Sumatera Timur dahulu,  Karesidenan   kalimantan  Barat dahulu  dan

Negara Indonesia Timur dahulu,  kecuali  peradilan Agama jika peradilan itu menurut hukum yang hidup merupakan satu bagian tersendiri  dari peradilan  Swapraja;

b.segala Pengadilan Adat (Inheemse  rechtspraak in rechtstreeksbestuurd  gebied),   kecuali peradilan  Agama jika peradilan itu menurut  hukum yang hidup  merupakan satu bagian tersendiri dari peradilan Adat.

(3)   Ketentuan yang  tersebut dalam  ayat (1)  tidak sedikitpun  juga mengurangi  hak-kekuasaan   yang sampai selama ini telah diberikan kepada hakim-hakim   perdarnaian di desa-desa  sebagaimana   dimaksud dalam pasal 3a Rechterlijke  Organisatie.

(4)  Pelanjutan   peradilan   Agama tersebut di atas dalam ayat (2) bab

a dan b,  akan diatur dengan Peraturan  Pemerintah.

Pasal 2. Pada saat peraturan  ini mulai berlaku

a. tempat kedudukan Pengadilan  Tinggi di Yogyakarta dipindahkan ke

Surabaya;

b.tempat  kedudukan  Pengadilan  Tinggi di Bukit Tinggi  dipindahkan  ke

Medan;

c.diadakan  satu Pengadilan Tinggi di Makasar;

d.diadakan   satu  Pengadilan   Negeri  dan satu  Kejaksaan   padanya, ditiap-  tiap tempat  di mana berdasar  atas ketentuan pasal 1 ayat    (1)   bab d dihapuskan satu Pengadilan Negara   atau Landgerecht (cara baru) beserta  alat Penuntutan  Urnum padanya.

Pasal 3.

(1)   Susunan,   kekuasaan,   acara dan tugas Pengadilan Tinggi di Makasar  dilakukan,    dengan  mengindahkan  ketentuan-ketentuan peraturan ini,   menurut peraturan-peraturan    Republik   Indonesia dahulu yang telah  ada dan berlaku untuk Pengadilan-pengadilan Tinggi dalam daerah Republik Indonesia dahulu itu.

(2)   Pada saat  peraturan    ini  rnulai  berlaku,    kekuasaan,  acara  dan tugas  Pengadilan  Tinggi  di Jakarta dilakukan,  dengan mengindahkan ketentuan-  ketentuan  peraturan ini,  menurut peraturan-peraturan Republik Indonesia   dahulu yang   telah ada dan berlaku   untuk Pengadilan-pengadilan  Tinggi dalam daerah Republik Indonesia dahulu itu.

 

Pasal 4.

(1)        Pada   saat   peraturan    1n1   mulai   berlaku,    daerah   hukum

Pengadilan-  pengadilan Tinggi ditetapkan  seperti berikut:

a.daerah  hukum Pengadilan  Tinggi  di Jakarta  meliputi  daerah-daerah

hukum segala  Pengadilan   Negeri  dalam  daerah  Propinsi   Jawa

Barat dan daerah- daerah hukum segala  Pengadilan  Negeri dalam daerah-daerah  Propinsi  Sumatera  Selatan  dan bekas karesidenan

Kalimantan  Barat;

b.daerah  hukum Pengadilan Tinggi di Surabaya meliputi daerah-daerah

hukum segala  Pengadilan  Negeri  dalam  daerah Propinsi  Jawa

Tengah dan dalam Propinsi  Jaw~-Timur;

c. daerah  hukum  Pengadilan  Tinggi di Medan  meliputi daerah-daerah

hukum  segala   Pengadilan    Negeri   dalam  Propinsi-propinsi

Sumatera  kecuali  dalam  Propinsi  Sumatera  Selatan;

d.daerah  hukum Pengadilan  Tinggi  di Makasar meliputi daerah-daerah

hukum segala Pengadilan  Negeri yang lain dalam daerah Republik

Indonesia.

(2)  Kepada  Menteri   Kehakiman diberi  kuasa untuk mengubah,  dengan persetujuan  Mahkamah  Agung,  peraturan  dalam ayat  (1).

Pasal 5.

(1)   Susunan,   kekuasaan,   acara dan tugas Pengadilan  Negeri dan Kejaksaan  yang dimaksudkan   dalam  pasal  2 bab d tersebut  dilakukan, dengan   mengindahkan    ketentuan-ketentuan    peraturan   1n1,   menurut peraturan-peraturan   Republik Indonesia  dahulu  yang telah ada dan berlaku untuk Pengadilan  Negeri dan Kejaksaan  dalam daerah Republik Indonesia  dahulu  itu, dengan  ketentuan,  bahwa  segala  Pegawai  pada Pengadilan-pengadilan    dan pada alat-alat   Penuntutan Umum padanya yang  dihapuskan  menurut  ketentuan  dalam  pasal  1    ayat  ( 1)     bab d tersebut,   dianggap   pada saat   peraturan    ini   diundangkan     telah diangkat  dalam jabatan   yang  sama  pada  Pengadilan   Negeri dan Kejaksaan  yang diadakan  baru itu,  dan dengan ketentuan pula,  bahwa daerah  hukum  Pengadilan  Negeri  yang diadakan  baru itu,  adalah  sama dengan  daerah  hukum pengadilan-pengadilan   yang dihapuskan itu, selama tiada penetapan  lain dari Menteri  Kehakiman.

(2)   Pada  saat  peraturan   ini  mulai berlaku,   kekuasaan,   acara  dan tugas Pengadilan  Negeri  di Jakarta  dan Kejaksaan  padanya dilakukan, dengan  mengindahkan   ketentuan-ketentuan    peraturan   ini,   menurut peraturan-peraturan    Republik  Indonesia  dahulu  yang  telah  ada dan berlaku  untuk Pengadilan  Negeri dan Kejaksaan  dalam daerah Republik Indonesia dahulu itu.

(3)   a.Pengadilan    Negeri,   yang  daerah-hukumnya    meliputi   daerah•

daerah  hukum   Pengadilan-pengadilan    yang  dihapuskan berdasarkan ketentuan  dalam  pasal  1  ayat  (1)     bab e,  f, g,  h,  i   dan j,  dan dalam pasal  1   ayat  (2)  bab  a dan  b, sebagai  pengadilan sehari-hari    biasa  untuk  segala penduduk  Republik Indonesia memeriksa  dan memutus  dalam peradilan    tingkat    pertama    segala   perkara    perdata dan/atau segala perkara   pidana  sipil  yang  dahulu diperiksa   dan  diputus oleh Pengadilan-pengadilan    yang

 

dihapuskan  itu.

b. Hukurn materiil   sipil  dan untuk  sementara  waktu  pun hukum

materiil  pidana   sipil  yang sampai  kini berlaku  untuk

kaula-kaula  daerah Swapraja dan orang-orang yang dahulu diadili oleh Pengadilan Adat,  ada  tetap  berlaku untuk kaula-kaula   dan orang itu,  dengan pengertian:

tiga

bulan

penjara

yaitu

sebagai

hukuman

 

bahwa suatu  perbuatan  yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan  pidana,   akan  tetapi   tiada bandingnya   dalam Ki tab  Hukum Pidana  Sipil,   maka dianggap  diancam  dengan hukuman   yang   tidak   lebih   dari

dan/atau  denda  lima  ratus  rupiah,

pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan   tidak

diikuti    oleh  pihak   terhukum   dan   penggantian    yang

dimaksud   dianggap   sepadan   oleh  hakim  dengan  besar kesalahan  yang terhukum,

bahwa,  bilamana  hukuman adat  yang dijatuhkan  itu  menurut fikiran hakim       melampaui   padanya  dengan  hukuman  kurungan  atau denda   yang   dimaksud   di  atas,   maka   atas  kesalahan terdakwa   dapat dikenakan hukumannya  pengganti   setinggi

10  tahun  penjara, dengan pengertian  bahwa hukuman adat

yang menurut  faham hakim tidak selaras  lagi dengan zaman

senantiasa  mesti diganti seperti  tersebut di  atas,  dan bahwa  suatu perbuatan   yang menurut   hukurn  yang hidup harus dianggap perbuatan pidana  dan yang ada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana  Sipil, maka  dianggap  diancam dengan  hukuman yang  sama dengan  hukuman bandingnya yang paling  mirip  kepada perbuatan pidana itu.

c.Jika  yang terhukum tak memenuhi  putusan yang dijatuhkan  oleh Hakim  Agama  dalam  lingkungan  peradilan  Swapraja  dan Adat,   salinan   putusan itu  harus   disampaikan  oleh yang berkepentingan    kepada  Ketua  Pengadilan   Negeri  yang daerah-hukumnya  meliputi   daerah-hukum  Hakim  Agama  itu untuk dapat dijalankan.

Ketua itu,  sesudahnya   telah nyata kepadanya  bahwa putusan  itu tak dapat  diubah  lagi,    menyatakan   bahwa  putusan   dapat dij alankan,   dengan  menaruh   perkataan       "Atas   nama Keadilan"   di  atas putusan  itu  dan dengan menerangkan dibawahnya,   bahwa putusan  dinyatakan   dapat dijalankan, keterangan   mana  harus  ditanggalkannya  dan  dibubuhi tanda-tangannya.

Setelah  i tu putusan dapat  dijalankan menurut acara  yang berlaku untuk menjalankan putusan  perdata  Pengadilan  Negeri.

Pasal  6.

(1)   Pada saat peraturan ini  mulai  berlaku,  oleh segala  Pengadilan Negeri,   oleh segala   Kejaksaan padanya  dan oleh  segala  Pengadilan Tinggi  dalam daerah Republik  Indonesia,   "Reglemen  Indonesia yang dibaharui"   (Staatsblad   1941  No.  44)  seberapa  mungkin harus diambil sebagai  pedoman   tentang   acara  perkara  pidana   sipil,    dengan perubahan dan tambahan  yang berikut  :

a. perkara-perkara   pidana sipil  yang diancam dengan hukuman  yang tidak lebih dari  tiga bulan penjara  dan/atau denda  lima ratus

 

rupiah,  atau yang rnenurut  ketentuan  dalarn pasal  5 ayat  (3)  bab b dianggap  diancarn  dengan  hukuman  pengganti  yang tidak  lebih dari  tiga  bulan   penjara   dan/atau   denda   lirna ratus  rupiah begitu juga  kejahatan   "penghinaan   ringan"  yang dirnaksudkan dalarn  pasal   315     "Ki tab Undang-undang  Hukurn  Pidana",   diadili oleh Hakim   Pengadilan    Negeri   dalarn  sidang   dengan   tidak dihadiri  oleh  Jaksa,   kecuali   bilarnana  Jaksa  itu  sebelurnnya telah  rnenyatakan  keinginannya   untuk  rnenjalankan  pekerjaannya pada sidang itu;

b.dalarn hal rnerneriksa  darn rnernutus  perkara-perkara  yang dimaksudkan dalarn  bab a  tadi,   berlaku  ketentuan  dalam  pasal-pasal   46 sarnpai    terhi tung    52     dari   "Reglernen    untuk    Landgerecht" (Staatsblad   1914      No.  317),       sedang  perkara-perkara   itu dapat diperiksa  dan diadili  walaupun terdakwanya  tidak hadir  asal saja terdakwa  itu telah dipanggil  untuk rnenghadap dengan  sah;

c.terhadap  putusan  yang dijatuhkan  dengan  tak berhadirnya  terhukurn itu siterhukurn dapat rnernajukan  perlawanan;

d.sebagai     acara    rnerneriksa   dan rnernutus  dengan   tak berhadirnya terhukurn  itu dan rnernajukan  perlawanan  itu,  diturut  ketentuan dalarn  pasal  6    "Reglemen  untuk Landgerecht"   (Staatsblad  1914

No.   317)        yuncto   1917       No.   323      dengan pengertian bahwa

perlawanan  itu harus diajukan  kepada Jaksa;

e.putusan-putusan   dalarn perkara-perkara    yang  dirnaksudkan  dalarn  bab a  tadi juga jika perkara-perkara    itu  tak dirnajukan   secara singkat  (surnir),  tak usah dibuat tersendiri  akan  tetapi  boleh dirnasukkan  dalarn catatan  perneriksaan  sidang.

(2)  Pada   saat   peraturan ini   rnulai   berlaku,   terhadap  putusan Pengadilan  Negeri  tentang  perkara  pidana  selainnya  dari pada yang dirnaksudkan  dalarn ayat  1   bab a tadi, oleh terdakwa  untuk dirinya sendiri  atau oleh jaksa yang bersangkutan  untuk satu atau beberapa terdakwa  dapat dirnohon bandingan oleh Pengadilan  Tinggi yang daerah hukurnnya  rneliputi  daerah  hukurn Pengadilan   Negeri  itu,  jika putusan itu tidak mengandung  pernbebasan dari tuntutan seluruhnya.

Bandingan  itu tidak mengubah putusan  yang telah dijatuhkan   kepada terdakwa lain.

( 3)          Kecuali  j ika terdakwa  dibebaskan,  rnaka  sesudah  putusan yang dirnaksudkan   dalam   ayat   2  tadi  diucapkan,   hakirn   rnengingatkan terdakwa akan  haknya  untuk  mohon bandingan  dalarn  tenggang  yang ditetapkan,   atau  untuk rnenerirna   baik   putusan Pengadilan,   atau sesudah   dirnohon  bandingan untuk  rnenarik  kernbali  perrnohonan   itu, atau untuk min ta supaya  rnenj alankannya  putusan  dipertangguhkan   14 hari  larnanya dalarn tempo  rnana ia akan memasukkan  perrnohonan grasi.

 

( 4)        Peringatan     ini   dijalankan     oleh    Pani tera diberitahukannya   kepada terdakwa  dalarn penjara.

 

jika  put us an

 

(5)

Perbuatan       yang

dilakukan

rnenurut

ayat

3    tadi

harus

dicatat

dalam

surat      catatan

perneriksaan

sidang.

       

(6)       Perbuatan       yang    dilakukan    rnenurut   ayat      4    tadi      harus      dicatat      di bawah  surat      putusan.

Pasal      7.

(1)   Perrnohonan  untuk   bandingan  harus  disarnpaikan  dengan    surat     atau dengan     lisan    oleh     pernohon a tau    wakilnya,      yang    sengaj a   dikuasakan untuk  rnernajukan    permohonan    itu,      kepada   Panitera    Pengadilan    Negeri yang  rnenjatuhkan     putusan,     dalam   tujuh    hari,     terhitung      rnulai     hari berikut   sesudah  hari    pengurnurnanputusan   kepada  yang   berkepentingan.

(2)      Permohonan    itu   oleh     Panitera    tersebut    ditulis     dalam     sebuah surat      keterangan    yang    ditanda       tangani    oleh  Panitera   tersebut   dan jika   dapat     juga  oleh  pemohon   atau     wakilnya,     surat    keterangan   mana harus   disertakan    dengan   surat-surat     perneriksaan    perkara,   dan    juga dicatat    dalarn   daftar.

Pasal    8.

Jika    Jaksa    yang    mernohon    bandingan,    maka    hal     ini   harus   selekas•

lekasnya   diberitahukan     kepada  terdakwa.

Pasal     9.

Selama    surat-surat    perneriksaan   perkara    belurn   dikirim  ke   Pengadilan Tinggi,     perrnohonan   bandingan  dapat     dicabut   kernbali      oleh   pernohon, dan    jika    dicabut    perrnohonan  sedernikian,     rnaka   tidak  dapat  diajukan lagi.

Pasal     10.

( 1)       Selambat-larnbatnya    lima   minggu,     terhi  tung  mulai    hari     berikut sesudah    hari       pengumurnan     putusan    Pengadilan    Negeri       kepada    yang bersangkutan,    Panitera     harus     mengirimkan    kepada     Pengadilan  Tinggi turunan dan   surat-surat    pemeriksaan  serta   surat-surat    bukti.

(2)        Dalarn   tujuh       hari        sebelurn     pengiriman     surat-surat       kepada Pengadilan     Tinggi     dan    dalam    empat    belas   hari      sesudah   diterimanya surat-surat     oleh     Pengadilan      Tinggi   harus   diberi    kesempatan  kepada terdakwa   atau   wakilnya  dan    kepada    Jaksa   untuk   membaca   surat-surat tersebut.

(3)          Mulainya       berlaku     tenggang      1n1     harus       diberitahukan   kepada terdakwa  dan    Jaksa   oleh    Pani tera     Pengadilan   Neger i    dan    Pani tera Pengadilan   Tinggi.

Pasal     11.

Pemeriksaan     dalarn     tingkat     bandingan     dilakukan     oleh    Pengadilan Tinggi    dengan   Tiga     Hakim,     jika   dipandang   perlu      dengan   mendengar sendiri   terdakwa atau  saksi.

 

Pasal 12.

Dalam

perkara

kejahatan   yang  terdakwanya   menurut   Undang-undang

dapat

ditahan

sementara,   sejak  permohonan  bandingan   diajukan

Pengadilan  tinggilah yang menentukan ditahan atau tidaknya.

Pasal 13.

Selama  Pengadilan  Tinggi belum  memutuskan   dalam tingkat  bandingan

terdakwa atau wakilnya

dan  Jaksa dapat

menyerahkan

surat-surat

pembelaan atau keterangan

kepada Pengadilan

Tinggi.

 

Pasal 14.

(1)   Dalam tingkat  bandingan  Pengadilan  Tinggi dapat mengubah  surat tuntutan secara  yang boleh dilakukan oleh Jaksa Kejaksaan  Negeri dalam pemeriksaan  tingkat  pertama.

(2)   Atas pengubahan  surat  tuntutan   ini  terdakwa   harus  didengar oleh Pengadilan  Tinggi sendiri  atau oleh Pengadilan   Negeri  atas perintahnya.

Pasal 15.

(1)   Jika menurut  pandapat  Pengadilan Tinggi  ada  kesalahan  atau kealpaan  atau   yang  kurang  lengkap   atau  kurang  sempurna  dalam pemeriksaan tingkat  pertama,  hal-hal  ini harus diperbaiki.

(2)    Dalam hal  ini  Pengadilan Tinggi  dapat memerintahkan  perbaikan ini   oleh Pengadilan Negeri  yang  memutuskan  dalam pemeriksaan tingkat pertama atau oleh salah satu Hakim dari Pengadilan Tinggi.

(3)  Jika  perlu,  Pengadilan Tinggi dapat membatalkan perbuatan Hakim dalam tingkat pertama yang mendahului putusan  penghabisan Pengadilan Negeri.

(4)   Apabila ha! ini  terjadi,  Pengadilan Negeri tersebut  harus mengulangi pemeriksaan dalam tingkat pertama mulai dengan perbuatan yang dibatalkan tadi.

Pasal 16.

(1)   Setelah semua hal  tersebut  di atas  dipertimbangkan dan dijalankan,    Pengadilan    Tinggi  menjatuhkan   putusan,    yaitu membenarkan  atau  mengubah  putusan  Pengadilan  Negeri  atau membatalkannya dan mengadakan putusan sendiri.

 

(2)   Jika pembatalan ini  terjadi  atas putusan

Negeri,   karena ia  tidak  berhak  memeriksa

 

Hakim Pengadilan perkaranya,   maka

 

perkaranya harus  dikembalikan kepada  Hakim

tersebut yang wajib memeriksanya.

 

Pengadilan Negeri

 

Pasal 17.

(1)   Jika  terdakwa   dalarn tingkat   bandingan   dihukum  oleh  karena kejahatan  yang terdakwanya  menurut  Undang-undang  dapat  ditahan sementara,   Pengadilan  Tinggi  menentukan penahanan berjalan  terus atau penghentiannya  penahanan.

(2)  Jika  keadaan  berlainan  dari  pada yang tersebut    dalarn  ayat l,Pengadilan   Tinggi,  tidak  boleh  memerintahkan   penahanan dan jika terdakwa  tertahan,  perintah penahanan harus dicabut.

Pasal 18.

Putusan  Pengadilan  Tinggi  dalarn tingkat  bandingan  ini harus ditanda tangani  oleh semua Hakim yang turut memutuskan dan oleh Pani tera yang turut membantu  meriksa,   kecuali  jika mereka berhalangan,   hal mana harus dicatat dalam surat putusan.

Pasal  19.

(1)        Turunan  putusan   ini  beserta  dengan surat-surat   pemeriksaan harus   selekas-lekasnya    dikirim   kepada   Pengadilan Negeri  yang memutuskan  dalam pemeriksaan  tingkat pertama.

(2)   Isi  putusan harus  diberitahukan   kepada  terdakwa  oleh Panitera Pengadilan  Negeri  itu selekas  mungkin,  pemberi tahukan  mana harus dicatat dalam putusan  Pengadilan  Negeri.

Pasal 20.

(1)   Dengan mengingat  peraturan  pemerintah  tentang permohonan grasi demikian juga  peraturan  tentang  pengembalian   barang-barang   bukti segera sesudah  habis sidang dan jika tiada peraturan  lain dari pada ayat-ayat  yang tersebut   di  bawah ini,   maka  putusan  Pengadilan Tinggi   dalarn  tingkat    bandingan  ini   harus    selekas-lekasnya dijalankan  oleh Jaksa dari Kejaksaan  pada Pengadilan  yang mengadili perkara  dalam tingkatan  pertama.

(2)  Untuk   dapat menjalankan  putusan  itu,  Panitera   Pengadilan Negeri   yang  tersebut    dalam  pasal    19    ayat  2,   sesudah diberitahukannya   putusan  itu  kepada  terdakwa  menurut  aturan dalam pasal  19 itu,  mengirimkan  kepada Jaksa  yang tersebut  dalam ayat 1 pasal   1n1  untuk tiap-tiap   terdakwa petikan  dari  putusan   itu berangkap  dua, dalam petikan mana disebut  :

nama,  umur,  tempat  lahir,  pekerj aan,  tempat  tinggal  atau  tempat

kediarnan  terdakwa,  putusan  dari Pengadilan  dalam peradilan  tingkat

pertama  dan putusan  dalam tingkat  bandingan,   hari  putusan   itu dijatuhkan,   demikian  pula nama Hakim yang turut memberi  keputusan, dan lagi  perintah   tentang  penahanan   terdakwa,  dengan catatan bahwa putusan itu  sudah  mendapat   kekuatan   tetap  kecuali  dalam  hal terdakwa dibebaskan  dari segala tuntutan.

 

(3)   Putusan   Pengadilan tersebut   dalam ayat  1

 

Tinggi   itu  dijalankan   oleh pasal   ini  secara peraturan

 

Jaksa yang menjalankan

 

putusan perkara pidana dalam peradilan  tingkatan  pertama. ATURAN PERALIHAN

A. (l)Dalam  7 hari  sesudah  peraturan   ini mulai  berlaku,  dimana-mana

"Reglemen  Indonesia  yang Dibaharui"   (Staatsblad  1941  No.

44) mulai berlaku  sebagai  pedoman  tentang  perkara  pidana

sipil.   Jaksa Pengadilan   Negeri  diwajibkan   memeriksa dalam daerah   hukumnya   orang manakah   yang  ditahan

sementara  oleh  karena  kej aha tan  sipil  yang  terdakwanya menurut Undang-undang dapat ditahan sementara.

(2)Jika  ada alasan  cukup untuk meneruskan  penahanan  sementara itu, Jaksa  yang bersangkutan  harus mengeluarkan   dalam  7  hari tersebut  untuk tiap-tiap   tersangka  perintah  penahanan yang berlaku  30 hari.

B.Jika   pada  saat  peraturan ini mulai  berlaku  belum  lagi  liwat 7 hari,  terhitung mulai  hari  berikut  sesudah  hari pengumuman putusan kepada yang berkepentingan,  tenggang  yang di tetapkan dalam  pasal  7 untuk dapat  mohon  bandingan terhadap  putusan perkara  pidana yang diterangkan  dalam pasal   6 ayat  2 harus dihitung  mulai  dari  pada saat peraturan   ini  telah mulai berlaku.

C.Dengan   rnulai berlakunya   peraturan  ini,  seketika  itu juga  segala pengadilan  yang disebutkan  dalam pasal  1 ayat  (1)  dan ayat  (2) dan segala   alat  Penuntutan   Umurn   yang  sekedar  ada  pada Pengadilan-pengadilan   itu harus rnemperhentikan pekerjaannya.

D. (1)  Segala  perkara yang  pada saat  peraturan  ini rnulai  berlaku telah  ada pada Mahkarnah Justisi  di Makasar,  dijalankan putusannya atau  diteruskan  perjalanan  putusannya atau dilanjutkan   pemeriksaannya dan  diputuskan   oleh Pengadilan Tinggi  di Makasar,   rnenurut  hukum acara  yang berlaku  untuk Pengadilan  Tinggi itu.

(2)Untuk dapat melakukan ketentuan  dalam bab  1, Panitera  Mahkamah tersebut   harus   rnenyerahkan   selekas-lekasnya    segala perkara  tersebut  beserta segala  surat perneriksaan  sidang dan segala  surat  pernbukti perkara  itu  kepada  Panitera Pengadilan  Tinggi tersebut.

{3)Arsip,   uang  dan  barang-barang   (inventaris)   Mahkamah  tersebut, oleh   Paniteranya    harus   selekas-lekasnya    diserahkan kepada Panitera  Pengadilan  Tinggi tersebut.

{4)Kepala   alat Penuntutan   Umum pada  Mahkamah tersebut  harus selekas-lekasnya   rnenyerahkan  segala  perkara  pidana  yang ada padanya  untuk diperiksa  beserta  segala  barang  bukti dan    arsip,   uang dan barang-barang   Kantornya   kepada Kepala Kejaksaan  Pengadilan  Negeri di Makasar.

E. ( 1) Segala  perkara  yang  pada saat  peraturan ini mulai  berlaku

 

telah ada pada Appelraad di Makasar, dijalankan putusannya atau diteruskan perjalanan putusannya atau dilanjutkan  perneriksaannya dan   diputuskan  oleh Pengadilan Tinggi  di   Jakarta  dengan  rnengindahkan ketentuan Undang-undang ini.

(2)Untuk dapat rnelakukan ketentuan  dalarn bab 1,  Panitera Appelraad tersebut        harus rnengirirnkan   selekas-lekasnya segala perkara tersebut        beserta segala surat perneriksaan  sidang dan segala surat pernbukti perkara  itu kepada Panitera Pengadilan Tinggi tersebut.

(3)Arsip,   uang  dan  barang-barang Appelraad  tersebut, oleh Paniteranya      harus selekas-lekasnya  diserahkan kepada Panitera Pengadilan Tinggi tersebut.

F. ( 1) Segala perkara yang pada saat  peraturan aru,  rnulai   berlaku telah ada pada Appeiraad di Medan, dijalankan putusannya atau     diteruskan  perjalanan putusannya atau dilanjutkan perneriksaannya  dan diputuskan oleh Pengadilan Tinggi di Medan rnenurut  hukurn acara yang berlaku untuk Pengadilan Tinggi itu.

(2)Untuk dapat rnelakukan ketentuan  dalarn bab 1,  Panitera Appelraad tersebut    harus  rnenyerahkan selekas-lekasnya segala perkara tersebut beserta segala surat perneriksaan sidang dan    segala  surat  pernbukti perkara itu  kepada Panitera Pengadilan Tinggi tersebut.

 

(3)Arsip,   uang  dan  barang-barang   Appetraad   tersebut, Paniteranya harus  selekas-lekasnya diserahkan Panitera Pengadilan Tinggi tersebut.

 

oleh kepada

 

G. ( 1) Segala  perkara  yang pada saat peraturan  a.n i      rnulai   berlaku tel ah ada pada   Pengadilan  Negara, Landgerecht ( cara baru),     Pengadilan Kepolisian, Pengadilan Magistraat (Rendah),       Pengadilan  Kabupaten,  Raad Distrik,  Pengadilan Distrik   dan Pengadilan Negorij dijalankan putusannya atau     diteruskan  perjalanan putusannya atau dilanjutkan perneriksaannya    dan diputuskan oleh Pengadilan Negeri yang dirnaksudkan  dalarn pasal 5 bab 3 huruf  a, rnenurut hukurn acara yang berlaku untuk Pengadilan  Negeri itu.

(2)Untuk dapat rnenjalankan  ketentuan dalarn  bab 1,   Hakim yang rnengepalai berikut  rnasing-rnasing  Pengadilan Kepolisian, Pengadilan       Magistraat (Rendah),   Pengadilan kabupaten, Raad Distrik, Pengadilan Distrik dan Pengadilan Negorij harus         rnengirirnkan    selekas-lekasnya segala  perkara tersebut        beserta  segala surat perneriksaan  sidang dan segala      surat pernbukti   perkara itu  kepada Pani tera Pengadilan       Negeri yang dirnaksudkan  dalarn pasal 5 bab 3 huruf a.

 

(3)Arsip,

uang  dan   barang-barang   pengadilan-pengadilan

yang

 

dimaksudkan  dalam bab 2 beserta segala  barang bukti

yang

ada  padanya,   oleh  hakim   yang  mengepalai   pengadilan•

pengadilan itu harus  selekas-lekasnya   diserahkan kepada

Panitera  Pengadilan Negeri yang dimaksud  dalam pasal 5

bab 3 huruf  a.

H. ( 1) Terhadap  segala  perkara  pidana yang  pada  saat peraturan  ini mulai      berlaku telah  diputuskan oleh Pengadilan  Swapraja atau   Pengadilan  Adat,   maka  ketentuan  dalam  aturan peralihan bab B yuncto ketentuan   dalam pasal   5  bab 3 huruf  b berlaku  juga.

(2)Segala   perkara  yang pada saat peraturan ini mulai  berlaku telah ada  pada  Pengadilan  Swapraja   atau  Pengadilan   Adat melainkan  perkara    yang   dikecualikan     berdasar  atas ketentuan  dalam pasal  1   ayat  (2)   bab  a  dan b    , dijalankan     putusannya    atau    diteruskan   perjalanan putusannya    atau   dilanjutkan    pemeriksaannya     dan diputuskan  oleh Pengadilan  Negeri yang dimaksudkan  dalam pasal  5 bab  3 huruf a,  menurut  hukum acara yang berlaku untuk Pengadilan Negeri itu.

(3)Untuk  dapat melakukan ketentuan  dalam  bab 1,  Pemimpin   swapraja dan Pemimpin Pengadilan Adat  harus mengirimkan selekas• lekasnya  segala  perkara  tersebut  beserta   segala surat pemeriksaan  sidang  dan segala  surat  pembukti  perkara itu kepada  Panitera  pengadilan  Negeri  yang dimaksudkan  dalam pasal  5 bab 3 huruf  a.

(4)Arsip

Pengadilan  Swapraja

dan  segala   barang bukti yang ada

 

padanya,   dan arsip, Adat beserta segala

uang  dan barang-barang   Pengadilan barang bukti  yang ada  padanya,  oleh

Pemimpin  pengadilan-pengadilan

selekas-lekasnya   kepada Panitera

itu  harus

Pengadilan

diserahkan

Negeri  yang

         

dimaksudkan dalam pasal 5 bab 3 huruf  a.

(5)Kepala alat  Penuntutan  Umum  pada  Pengadilan   Swapraja   harus menyerahkan   selekas-lekasnya    segala  perkara  pidana  yang ada padanya  untuk diperiksa beserta segala  barang bukti dan arsip  Kantornya,   dan Kepala   alat  Penuntutan   Umum

 

pada   Pengadilan

selekasnya  segala

Adat   harus   menyerahkan    selekas•

perkara pidana yang ada padanya  untuk

diperiksa  beserta

dan  barang-barang

Pengadilan  Negeri

segala  barang bukti,   dan arsip,  uang

Kantornya,    kepada  Kepala   Kejaksaan

yang dimaksudkan  dalam pasal  5 bab 3

huruf  a.

 

Ketentuan

terakhir.

 

Undang-undang   ini mulai berlaku pada hari diundangkan.

Agar  supaya  setiap orang  dapat mengetahuinya,   memerintahkan pengundangan   Undang-undang  ini  dengan penempatan dalam  Lembaran

 

Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan  di Jakarta

pada tanggal  13 Januari  1950

PRESIDEN  REPUBLIK  INDONESIA, SOEKARNO

Diundangkan

pada tanggal 14 Januari  1950

MENTERI KEHAKIMAN,MENTERI  KEHAKIMAN,

WONGSONEGORO

 

UMUM

 

PENJELASAN ATAS

UNDANG-UNDANG  DARURAT NO 1 TAHON 1951

TENTANG TINDAKAN-TINDAKAN  SEMENTARA UNTUK MENYELENGGARAKAN  KESATUAN SUSUNAN,  KEKUASAAN

DAN ACARA PENGADILAN-PENGADILAN SIPIL.

 

Pemerintah prefederal telah   menyusun susunan   pengadilan• pengadilan yang dahulu dinamakan  "Governements-rechtspraak"   secara regional,  dengan Hooggerechtshof  sebagai pengadilan  tertinggi  untuk seluruh  Indonesia.

Untuk  beberapa  daerah-daerah Indonesia    oleh   Pemerintah prefederal itu  telah   diadakan peraturan-peraturan   tersendiri tentang  susunan,  kekuasaan  dan acara pengadilan-pengadilan  regional itu,  misalnya  pengadilan  dalam pemeriksaan  tingkat  pertama  di sini dinamakan Landgerecht,   di   situ   Pengadilan     Negara,   di   sana Pengadilan  Negeri,  dan dalam tingkat  bandingan  di sini dinamakan

Appelraad,

di situ Mahkamah Justisi

(Hof van Justitie), di sana

Pengadilan

Tinggi.

 

Dari putusan perkara pidana sipil  yang dijatuhkan  dalam pemeriksaan  tingkat pertama,  di sini tak dapat dimintai  pemeriksaan ulangan,  di sana hanya dapat diminta jika hukurnan yang dijatuhkan itu  melebihi satu tahun penjara,  di situ  dapatlah diminta  dalam perkara yang diancam hukuman lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus  rupiah,  asal putusan dalam tingkat pertama  tidak memuat pembebasan dari tuntutan seluruhnya.

Pada saat   pemulihan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat keadaan  dalam  lingkungan  pengadilan  yang dahulu dinamakan "Gouvernements-rechtspraak"   telah  menjadi begitu   ruwet,   hingga hanya beberapa penduduk  Indonesia saja mengetahui  bagaimanakah susunan,    kekuasaan    dan  acara   pengadilan-pengadilan    regional

 

tersebut.

Berdasar atas pasal 192 Konstitusi Republik  Indonesia Serikat, peraturan-peraturan tersendiri tersebut tetap berlaku sebagai peraturan-peraturan R.I.S.  sendiri, selama dan sekedar peraturan• peraturan  itu  tidak dicabut, ditambah  atau diubah oleh  Undang• undang atas kuasa Konstitusi  itu.

Maka karena daerah-daerah-bagian   R.I.S.   berhak,  berdasar atas pasal 155  Konstitusi, mengatur kekuasaan pengadilan-pengadilan   yang diakui  dengan atau atas kuasa Undang-undang  daerah-daerah-bagian itu,   tidak   mungkinlah   bagi  Pemerintah  R.I.S.    untuk  mencapai kesatuan  susunan,   kekuasaan  dan  acara  pengadilan-pengadilan regional itu.

Hanya  susunan,   kekuasaan   dan  acara  Mahkamah  Agung,   yang bentuknya berdasar atas pasal 113  Konstitusi,   telah dapat  diatur oleh  Pemerintah   R.I.S.    dengan  Undang-undang  No.   1   tahun  1950 (Lembaran Negara No 30 Tahun 1950).

Sebuah rancangan Undang-undang untuk mengganti Undang-undang tersebut  berhubung  dengan  pembentukan  Negara  Kesatuan,   oleh Pemerintah  Republik  Indonesia  telah  disampaikan  kepada  Dewan Menteri.

Pada saat Negara Kesatuan  telah  didirikan,  maka  kekuasaan daerah-daerah-bagian   R.I.S.   tidak seketik~  itu juga berhenti.

Baharu  sekaranglah  kekuasaan  daerah-daerah-bagian   R.I.S. beradalah,   bai k de j ure maupun de facto,  dalam tangan Pemerintah Republik  Indonesia,    yang  dengan  tidak  menunggu  lagi  telah menyampaikan  sebuah  rancangan  Undang-undang  tentang  susunan, kekuasaan dan cara Pengadilan-pengadilan   Negeri dan Pengadilan• pengadilan Tinggi kepada Dewan Menteri.

Rancangan Undang-undang itu mengandung azas unifikasi susunan, kekuasaan dan acara segala  Pengadilan Negeri dan segala  Pengadilan Tinggi dalam daerah Republik Indonesia.

Rancangan Undang-undang   itu  berazas  pula, bahwa,   - kecuali

j ika  dalam Undang-undang ditetapkan suatu  pengadilan lain  untuk

memeriksa  dan memutus (misalnya :    perkara-perkara   yang dimaksudkan

dalam   pasal-pasal   106   dan  108    Undang-undang  Dasar   Sementara Republik Indonesia atau perkara-perkara pidana militer)    ,     hanya Pengadilan  Negeri  belaka  berkuasa  memeriksa  dan memutus  dalam peradilan tingkat pertama  segala  perkara perdata dan segala  perkara pidana sipil.

Maka Pengadilan Negeri,  menurut rancangan Undang-undang itu, adalah   Hakim  sehari-hari  biasa  untuk  segala   penduduk  Republik Indonesia.

Pendirian  rancangan Undang-undang  itu berakar dalam azas-hukum yang tersebut  di bawah ini.

 

Dalam "suatu  negara-hukurn   yang dernokratis  dan berbentuk kesatuan",     dalam hal ini Negara Republik Indonesia (pasal   1

Undang-undang  Dasar Sernentara)  - ,    Rakyat yang rnernegang Kedaulatan harus percaya,  bahwa dalarn Negaranya  terdapatlah  suatu alat negara• hukurn itu  yang tak berpihak (artinya yang tidak tunduk begitu saja pada alat perlengkapan negara yang lain)  dan yang rnernenuhi  :

"sernata-rnata  pada syarat  kepandaian,  kecakapan  dan kelakuan tak-bercela yang ditetapkan dengan Undang-undang  (pasal 101 ayat 2- Undang-undang  Dasar),   dan "bertentangan  dengan kernauannya tiada seorang juapun  dapat  dipisahkan"  dari padanya (pasal  13  ayat  2

Undang-undang  Dasar), untuk rnernberi  "bantuan-hukurn  yang sungguh" kepada "sekalian orang yang ada di daerah Negara"  yang "sama berhak rnenuntut  perlindungan untuk  diri dan harta-bendanya",   "rnenuntut perlakuan dan perlindungan yang sarna oleh Undang-undang",   "menuntut perlindungan   yang  sarna   terhadap tiap-tiap   pernbelakangan   dan terhadap tiap-tiap penghasutan   untuk rnelakukan   pernbelakangan demikian",   "rnelawan  perbuatan-perbuatan  yang berlawanan dengan hak• hak dasar  yang diperkenankan   kepadanya rnenurut   hukum",   "dalarn persarnaan   yang  sepenuhnya rnendapat   perlakuan  jujur  dalam perkaranya,  dalarn hal rnenetapkan  hak-hak  dan kewajiban-kewajibannya dan dalarn  hal  menetapkan   apakah suatu tuntutan hukurnan   yang dimajukan terhadapnya  beralasan  atau tidak",  dianggap tak bersalah

j ika di tuntut  karena  disangka melakukan sesuatu peristiwa  pidana "sampai  dibuktikan   kesalahannya   dalarn  suatu sidang  pengadilan, menurut  aturan-aturan  hukurn  yang berlaku,  dan ia dalam  sidang itu diberikan segala jaminan yang telah ditentukan  dan yang perlu untuk pernbelaan"  dengan mengindahkan,  bahwa "tiada  seorang  juapun  (yang) boleh dituntut  untuk dihukurn atau dijatuhi  hukurnan, kecuali  karena suatu aturan  hukurn yang sudah  ada dan berlaku  terhadapnya"  dan "apabila  ada perubahan dalarn aturan  hukum seperti tersebut   dalarn ayat  di  atas,  rnaka dipakailah ketentuan  yang lebih  baik bagi  si tersangka"   (pasal-pasal  7, 8, 13 dan 14 Undang-undang  Dasar).

Tugas yang oleh azas-azas-hukurn  tercanturn dalam Undang-undang Dasar Republik  Indonesia  dibebankan  kepada  seorang Hakim, adalah amat berat.

Tugas  itu rnenuntut  pelajaran 'ilrnu  hukurn  yang   sempurna dan yang tiada berkeputusan,   dan rnelainkan  kepandaian dan kecakapan istimewa   itu,  peri-peri   perangai dan peri-peri   budi yang agak

berlainan dari pada  yang harus  dipenuhi

oleh

seorang pegawai

Pamong-praja,   seorang  pegawai  Tata-Usaha

atau

seorang pegawai

Polisi.

   

Pendek kata,  tugas  Hakim  itu rnenuntut  tenaganya sepenuh• penuhnya dan suatu obyektipitet,  kedua hal mana tak dapat dipenuhi olehnya,  jika  ia selain  menjadi suatu  badan yang khusus mernberi keadilan  kepada  Rakyat merangkap  pula menjadi suatu bagian  alat perlengkapan negara yang lain.

Maka dari itu pasal  103 Undang-undang  Dasar Republik  Indonesia memperlindungkan  Rakyat akan melawan  urusan  pengadilan oleh  alat-

 

alat perlengkapan Negara yang bukan perlengkapan  pengadilan.

Kekuasaan  Hakim itu adalah  amat  besar,  sebab Hakim dapat menjatuhkan putusan  dengan memakai kekerasan.

Jika kekuasaan  itu diberikan kepada suatu alat  perlengkapan Negara yang tidak bebas dan,   karena itulah  tidak obyektip pula, maka   kekuasaan  itu    akan  dipergunakannya    untuk   meneguhkan kedudukannya atau oleh penyelenggara alat perlengkapan  itu  akan salah dipakainya,   ialah untuk mencapai  suatu maksud yang lain dari pada memelihara keadilan.

 

itu.

 

Riwayat dari  banyak Negara telah  membuktikan  hal sedemikian

 

Keadilan,  yaitu "tenax propositum et constans haec perpetuaque voluntas  cuique quod tempori populoque  convenientes  leges et in viridi  positae observatae definiverunt singulis  tribuendum esse",

1)

Keadilan, yaitu "leichmaszig   - unvoreigenommene    Auwendung des positiven  d.h.   des  in der Gemeinschaft  praktisch  und  faktisch gultigen  Recht",  2)

Keadilan, "always  the same in the case of men and things you do not like as in the  case of these you do like",  always  the same whether  it be due from one man to a million,  or from a million to one man",  3)

Keadilan,   yang dianggap   luhur  itu  dalam daerah  Republik Indonesia,  pemeliharaannya  tak boleh lebih  lama  lagi  dipasrahkan kepada pengadilan-pengadilan   yang terdiri dari  pada Hakim yang tidak mempunyai  kebebasan  dan - pada umumnya - tak memenuhi syarat• syarat, kepandaian dan kecakapan yang menurut Undang-undang Dasar harus dipenuhi oleh seorang Hakim.

Berhubung dengan apa yang diuraikan di atas ini,  telah nyata kiranya,   bahwa dalam seluruh daerah Indonesia  segala pengadilan• pengadilan  sipil dari Negara yang memeriksa dan memutus  perkara• perkara perdata dan (atau)   pidana,   jika  pengadilan-pengadilan   itu

khusus terdiri dari

para Hakim yang bukan  Hakim

karena jabatannya

(beroepsprechters),

lagi pula segala kekuasaan

Hakim-hakim  desa,

harus dihapuskan.

   

1),   2),   3)   :asal   dari perkataan-perkataan  yang disebutkan  itu, diterangkan  dalam majalah hukum untuk Negara Belgia bernama  "Rechtskundig   Weekblad",   perj alanan tahun ke 13 No. 40   (karangan Mr.  J.L.   Apeldoorn  tentang "Wet  en Gerechtigheid").

Oleh  karena   rancangan   "Undang-undang   tentang  susunan, kekuasaan dan acara Pengadilan-pengadilan  Negeri  dan Pengadilan• pengadilan Tinggi"  tersebut harus  dipelajari  dan dibicarakan  oleh Dewan Menteri  dahulu,  dan baharu sesudahnya  itu akan disampaikan

 

kepada  Dewan  Perwakilan   Rakyat  dengan  arnanat   Presiden  Republik Indonesia,   sehingga   kiranya  beberapa   bulan  akan  lalu  sebelum rancangan  itu telah rnenjadi  Undang-undang,   rnaka   terpaksalah karena  keadaan-keadaan   yang rnendesak dengan  Undang-undang   Darurat ini diarnbil tindakan-tindakan    yang arnat perlu.

Maka oleh Undang-undang  Darurat ini ditiadakan a.    segala pengadilan  Distrik,

b.    segala pengadilan  Kabupaten,

c.    segala pengadilan  Negorij, d.    segala Raad Distrik dan

e. segala  pengadilan   Magistraat   -  yang di  beberapa   daerah-daerah

Indonesia  pada waktu ini dinarnakan pengadilan  Rendah.

(Periksalah  pasal-pasal  1,  77 dan 81 R.O.,   1,  3,  10,  18 dan 26

Reglernen   Hukum Acara Seberang,    I  juncto   12  Reglernen  Kalirnantan

Timur  Besar,  2 Reglemen   Pengadilan   Indonesia   Timur,   2  Voorlopig

Rechtsreglement,    2  Voorlopige    Regeling   Rechtswezen,    1   dan  2

Peraturan  Pemerintah  Pengganti  Undang-undang  No.  I Tahun  1950  dan

Undang-undang  No.  8 Tahun   1950 tersebut,  juncto  pasal  142 Undang•

undang Dasar Sementara).

Pengadilan-pengadilan    Kepolisian   (periksalah  pasal-pasal  1 dan

116 bis R.O.,   1 dan 49 Reglemen  Hukum Acara Seberang,  2 Voorlopig

Rechtsreglement,    2  Voorlopige    Regeling   Rechtswezen,    1  dan   2

Peraturan  Pemerintah  Pengganti  Undang-undang  No.  1  Tahun 1950  dan

Undang-undang  No.  8 Tahun  1950 tersebut,  juncto  pasal  142 Undang• undang Dasar Sementara)  pada waktu ini praktis  segenapnya  dirangkap oleh Hakim-hakim  pada pengadilan  Negeri  setempat.

Maka untuk rnencapai suatu rasionalisasi  susunan dan tata-usaha pengadilan-pengadilan   di Indonesia,Pemerintah    harus  menghapuskan pula   dengan   Undang-undang    Darurat  ini,   segala   pengadilan Kepolisian.

Segala   pengadilan Swapraja (Zelfbestuursrechtspraak)      dalarn daerah-daerah  Negara Sumatera Timur dahulu,  karesidenan   Kalirnantan Barat   dahulu dan  Negara   Indonesia   Timur   dahulu,   dan  segala pengadilan   Adat   (Inheemse   rechtspraak   in  rechtstreeks   bestuurd gebied)  - kecuali  peradilan  Agama jika peradilan  itu menurut  hukum yang  hidup   merupakan satu   bagian   tersendiri   dari   peradilan• peradilan  Swapraja  dan Adat itu - harus  dihapuskan   karena  alasan yang  sarna mengenai pengadilan-pengadilan    itu telah  disebutkan   di atas,  dan berdasarkan  yang berikut.

Dalarn daerah Republik  Indonesia dahulu,  "sernua  Pengadilan-Raja di Jawa  dan  Sumatera"  telah  dihapuskan   berdasar  atas  ketentuan• ketentuan  Undang-undang   1947 No. 23.

 

Berdasarkan Peraturan Pemerintah  pengganti Undang-undang  No. 1 tahun  1950  juncto   Undang-undang   No.   8  tahun  1950 penghapusan tersebut   dilakukan   juga   ten tang    pengadilan-pengadilan-Raja (Swapraja) dalam daerah-daerah pulihan Republik Indonesia dahulu itu.

Mengingat pasal 132 juncto  133 Undang-undang Dasar Sementara dan hak Pemerintah  Republik Indonesia   (Kesatuan) untuk menghapuskan pengadilan-pengadilan  itu  j ika kepentingan umum memaksa,   hak mana berdasarkan  pasal  9  ayat 3  kontrak politik yang dibuat dengan

beberapa daerah-daerah Swapraja dalam

Negara Sumatera Timur

dahulu

karesidenan Kalimantan  Barat dahulu

dan Negara  Indonesia

Timur

dahulu  (periksalah  Staatsblad  1939 No.   146,   612   dan  613), dan

berdasarkan  pula  pasal   9  ayat  3   "Peraturan   Swapraja  1938" (Staatsblad 1938 No.   529) yang  sekedar   mengenai  daerah-daerah Swapraja dalam Negara-negara dahulu tersebut dan karesidenan  dahulu tersebut  yang  hubungannya  dengan  Pemerintah  Republik  Indonesia (Kesatuan) dipemerintahkan  oleh yang disebut "Korte Verklaring", maka penghapusan pengadilan-pengadilan  Swapraja itu adalah setuju dengan hukum oleh karena seluruh Rakyat yang bersangkutan berulang• ulang  sangat mohon itu.

Pengadilan-pengadilan Adat,  yang berdasar atas Staatsblad  1932

No. 80 setelah diubah oleh Stbl.   1938  No. 264 dan 370,  dan atas

pasal-pasal  1  dan 12  Reglemen Kalimantan-Timur   Besar,  1  Reglemen

Pengadilan  Indonesia  Timur,   2   Voorlopig   Rechtsreglement,    2

Voorlopige   Regeling  Rechtswezen,  1   dan  2  Peraturan  Pemerintah

pengganti Undang-undang No. 1 tahun 1950 juncto Undang-undang No.  8 tahun 1950,  dan pasal-pasal  101, 102  dan 142 Undang-undang Dasar Sementara,  selain dari tidak mencukupi syarat-syarat  yang Undang• undang Dasar Sementara menuntut dari suatu alat perlengkapan pengadilan,  juga tidak diingini  lagi oleh seluruh Rakyat  yang bersangkutan  yang berulang-ulang telah mohon penghapusannya.

Akan tetapi hal menghapuskan peradilan Swapraja dan peradilan Adat tak mungkinlah dijalankan pada saat itu juga  peraturan ini diundangkan,   oleh  sebab tenaga Hakim  pada Pengadilan Negeri yang amat besar diperluaskan pekerjaannya karena penghapusan itu belum

cukup adanya.

Berhubung dengan hal itu, maka penghapusan tersebut akan dijalankan  berangsur-angsur  menurut  kebutuhan dengan memperbaiki tenaga-tenaga yang dapat disediakan.

Oleh karena dalam tempo yang pendek Kitab Hukum Pidana Sipil akan diulang-mengundangkan,    setelah Kitab itu disesuaikan dengan keadaan pemerintahan  yang baharu ini,   dan kini belum ada tentu apakah  perbuatan-perbuatan   pidana-adat  dan  hukuman-hukuman-adat harus diakui terus,  maka untuk sementara waktu perbuatan-perbuatan pidana-adat  itu dan hukuman-hukuman-adat  itu tidak dihapuskan.

Peradilan Agama dalam Lingkungan peradilan-peradilan Swapraja dan Adat belum dihapuskan,  oleh karena Pengadilan-pengadilan  Agama dalam lingkungan peradilan   yang dahulu dinamakan "Gouvernements-

 

.J

rechtspraak"

untuk   sementara    waktu

dilakukan    terus   seperti

diterangkan

di bawah ini.

 

Pengadilan-pengadilan    Agama  berdasarkan   pada  begitu  banyak peraturan-peraturan     tersendiri   - baik peraturan-peraturan    Kekuasaan Militer   Belanda,   Undang-undang    biasa   dan  peraturan-peraturan Residen,   maupun   peraturan-peraturan     adat-istiadat     ,      bahwa  tak mungkinlah  menyebutkan  peraturan-peraturan   itu satu demi satu.

Kekuasaan   pengadilan   Agama  itu  tidak  teratur  bersamaan   di seluruh  Indonesia.

Bagi  pulau  Jawa,  pulau  Madura,  daerah  Banjarmasin   - kecuali daerah-daerah   Pulu Laut dan  Tanah  Bumbu  - dan daerah Hulu Sungai, kekuasaan   pengadilan-pengadilan    Agama khusus  meliputi   perkara• perkara  antara  orang-orang   Islam  yang menurut  adat-istiadat   harus diputus  menurut  Agama  Islam  dan bersangkutan  dengan  nikah-kawin, cerai,   rujuk,   rnahar,   hadlanah  dan  nafakah   (periksalah   pasal  2a Staatsblad     1882   No.   152,   setelah   ditarnbah   dan   diubah   oleh Staatsblad   1937 No.  116,  dan pasal  3 Staatsblad  1937  No.  638).

Bagi  Negara  Sumatera  Timur  dahulu,  kekuasaan  pengadilan  Agama selainnya    rneliputi   perkara-perkara     yang   disebutkan    tadi   juga perkara-perkara   antara  orang-orang  Islam yang rnenurut  adat-istiadat harus   diputus   menurut   agama   Islam   dan   bersangkutan    dengan "menetapkan  bahagian  pusaka  untuk ahli waris masing-masing"   (pasal

3 ketetapan   Wali  Negara  Surnatera  Timur  tertanggal   I Agustus  1950

No.  390/1950,  Warta Resmi N.S.T.   1950  No.  78).

Bagi  daerah-daerah    lain  di Indonesia   kekuasaan   pengadilan Agama  berdasarkan   pada,  atau  pasal  12  Peraturan    Swapraja    1938 tersebut,  atau pasal  12 Staatsblad   1932  No.  80 tersebut,  atau salah satu  reglemen  peraturan   pengadilan   yang  resional,   akan  tetapi batas-batas  kekuasaan  itu tidak dinyatakan  di situ  karena  mengenai adat-istiadat,   setidaknya   Kepala  Swapraja  atau Residenlah   yang menetapkannya.

Biaya  perkara  untuk  pengadilan  Agama - pada umurnnya - ada lebih tinggi dari pada biaya perkara  untuk pengadilan  Negeri.

Supaya  keputusan-keputusan   pengadilan  Agama dapat dijalankan, jika  yang terhukum tak dengan  rela hati memenuhi  keputusan,   maka  - pada umumnya  - dari  keputusan  pengadilan  Agama  itu harus  diminta "executor  verklaring"  kepada Ketua pengadilan  Negeri  setempat.

Maka  untuk  mempersatukan   urusan  perkara  perdata  yang  harus diputus  menurut  hukum syarat  Islam,  Pemerintah  mengharapkan   akan membicarakan    dengan   Dewan  Perwakilan   Rakyat,   apakah  tidak  harus memilih   memasrahkan   j uga   urusan   perkara   perdata   i tu  kepada pengadilan  Negeri.

Pengadilan   Negeri   dapat menanggungkan    keahlian   istimewa tentang  hukum  syarat  Islam  itu,  jika pengadilan  Negeri dalam urusan perkara  yang  dimaksudkan   tadi,   terdiri  dari seorang  Hakim  yang

 

beragama Islam sebagai  Ketua dan dua orang Hakim ahli  agama Islam sebagai Anggota,

Pasal  4 ayat  2 rancangan   "Undang-undang  tentang  susunan,   kekuasaan dan acara  Pengadilan-pengadilan   Negeri  dan  Pengadilan-pengadilan Tinggi"  mengandung  pendirian  tersebut.

Selain  dari  pada untuk menghapuskan  seketika  ini juga  segala pengadilan  Distrik,  segala  pengadilan  Kabupaten,  segala  pengadilan Negorij,    segala   Raad   Distrik,    segala   pengadilan   Magistraat (Pengadilan  Rendah),   segala  pengadilan  Kepolisian,   dan berangsur• angsur,   segala  pengadilan  Swap raj a  dan segala  pengadilan   Adat  - kecuali  peradilan   Agama  jika peradilan  itu rnenurut  hukum yang hidup rnerupakan  satu bagian tersendiri  dari peradilan-peradilan   Swapraja dan Adat itu  -   rnaka  Undang-undang   Darurat  ini berrnaksud pula untuk:

 

a.mempersatukan Gubernernen memeriksa sipil;

 

seketika  1n1 juga pengadilan-pengadilan  Sipil dari yang merupakan  pengadilan  sehari-hari  biasa untuk dan memutus  perkara perdata  dan  perkara  pidana

 

b.mempersatukan  seketika   1n1  juga  alat-alat  Penuntutan   Umum pada pengadilan-pengadilan  tersebut bab a.

Jadi mulai dari sekarang  ini  segala  pengadilan   itu dinamakan: "Pengadilan   Negeri"   dan semua  pegawai-pegawai    Penuntutan   Umum

padanya  :    "Jaksa"  atau "Wakil-Jaksa".

c.mempersatukan   seketika 1n1  juga  acara  tentang  perkara-perkara pidana sipil dalam lingkungan  peradilan  Pengadilan  Negeri  dan Pengadilan Tinggi.

Jadi mulai   dari   sekarang   ini hanya  Reglemen Indonesia  yang dibaharui  (Staatsblad  1941     No.  44)     seberapa  mungkin  dipakai sebagai   acara  tentang  perkara-perkara    pidana   sipil  dalam lingkungan peradilan Pengadilan  Negeri  dan Pengadilan  Tinggi.

d.mempersatukan   seketika  ini juga hak untuk dapat dimohon bandingan oleh Pengadilan  Tinggi  dari putusan Pengadilan  Negeri  tentang perkara   pidana,   serta   mempersatukan    acara   dalarn  tingkat bandingan  itu.

Jadi mulai dari sekarang  ini hak untuk dapat mohon bandingan  dari putusan  Pengadilan   Negeri  tentang  perkara pidana,   diberikan kepada  segala  terdakwa  dan segala  Jaksa  yang  bersangkutan, jika  putusan   itu mengenai  suatu  perkara  pidana  sipil yang diancam hukuman lebih  dari  tiga bulan penjara  dan/atau  denda lima  ratus  rupiah,  asal  putusan  itu  tidak  memuat pembebasan dari tuntutan  seluruhnya,   dan mulai pada saat yang berdasarkan ketentuan  dalam pasal   I ayat  (2) oleh Menteri Kehakiman dalam suatu    daerah  yang akan  ditentukan-Nya   dihapuskan   peradilan Swapraja  atau peradilan Adat,  makapun hak untuk dapat  mohon

 

..!

bandingan  dari putusan  Pengadilan  Negeri tentang perkara yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana, diberikan kepada   segala terdakwa  dan segala Jaksa yang bersangkutan,   jika putusan   itu  yang  sekedar tidak  memuat pembebasan   dari  tuntutan   seluruhnya  mengenai suatu  perkara pidana yang menurut ketentuan dalam pasal  5 ayat (3)  bab b harus dianggap diancam dengan hukuman (pengganti)  yang lebih dari tiga bulan penjara  dan/atau  denda lima ratus rupiah.

e.menempatkan  atau mendirikan  Pengadilan-pengadilan  Tinggi di Kota•

kota yang menurut kenyataan perlu diadakan.

Jadi di samping  Pengadilan  Tinggi yang telah  ada di Jakarta,  mulai dari     sekarang  ini akan terdapat  Pengadilan-pengadilan   Tinggi di Surabaya,  di Medan dan di Makassar.

Oleh karena Appelraad  di Medan,  Appelraad di Makassar  dan Mahkamah Justisi  di Makassar  mulai dari sekarang ini telah dihapuskan, pengadilan-pengadilan  sipil untuk pemeriksaan dalam tingkat bandingan juga telah dipersatukan.

f.menetapkan  secara  lebih rasionil  dari pada dahulu,  daerah-daerah hukum pengadilan-pengadilan  sipil yang dirnaksudkan dalam bab e.

Berhubung dengan apa yang telah diterangkan   di atas ini,  maka penjelasan   sepasal  demi  sepasal dari  Undang-undang  Darurat ini, dianggap tidak perlu lagi.

Kutipan: LEMBARAN  NEGARA DAN YANG TELAH DICETAK

CATATAN

 

TAMBAHAN UI.JI..NG

LEMBARAN

NEGARA

TAHUN

1951

81

       
 

Sumber:    LN 1951/9;  TLN NO. 81

 

 

Pencarian

Hasil Survey IKM & IPK

LAP BARU

Standar Pelayanan

standar pelayanan

Kuesioner Survey IKM & IPK

 Bantu kami untuk meningkatkan
 pelayanan, dengan mengisi survey
 dibawah ini !!!
survei ikmsurvei korupsi

Jadwal Sidang

img tautan jadwal sidang

Media Sosial

fb youtube2 ig

Pengumuman

Tautan

img tautan webimg tautan web

Statistik Pengunjung

094400
Hari ini
Bulan ini
Total
214
12411
94400
IP Address anda : 3.92.74.105
30-09-2020 10:10:58

ecourt

siwas

dirput

ecourt

Help Desk